Chapter

Kata Pengantar

Author(s):
Ana Corbacho, and Shanaka Peiris
Published Date:
October 2018
Share
  • ShareShare
Show Summary Details

Ketahanan dan pertumbuhan berkelanjutan selama 20 tahun terakhir dari lima anggota pendiri Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand, adalah di antara yang paling kuat di antara negara-negara emerging market. Buku ini membagikan sejumlah pelajaran dari reformasi kebijakan dan kebangkitan ekonomi negara-negara ASEAN-5 tersebut pasca krisis keuangan Asia, termasuk “Cara ASEAN” yang berbasis konsensus dalam berkolaborasi dan mengintegrasikan perdagangan, keuangan, dan pasar tenaga kerja menuju Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community). Kerangka kerja sama juga mendukung jaring pengaman keuangan kawasan ini yang diatur dalam Chiang Mai Initiative Multilateralization.

Secara keseluruhan, kerangka kebijakan moneter negara-negara ASEAN-5 telah berkinerja baik, menghasilkan stabilitas output maupun harga selama periode pergolakan dan transformasi domestik dan regional yang signifikan. Langkah bertahap menuju fleksibilitas yang lebih besar atas nilai tukar, diiringi kerangka penargetan inflasi (inflation targeting framework) yang fleksibel yang diterapkan di Indonesia, Filipina, dan Thailand, dan pendekatan yang agak berbeda dari Malaysia dan Singapura, membantu mempertahankan pertumbuhan dengan inflasi rendah. ASEAN-5 juga merombak regulasi dan pengawasan keuangan serta melakukan reformasi keuangan yang ditujukan untuk merestrukturisasi bank-bank dan perusahaan non-finansial serta mengembangkan pasar obligasi lokal (local current bond). Reformasi kebijakan ini membantu negara-negara tersebut mampu melalui krisis keuangan global dan mempertahankan stabilitas keuangan.

Siklus keuangan global telah berdampak luas pada siklus bisnis ASEAN-5, yang sebagian ditransmisikan melalui kondisi keuangan dan arus modal. Faktor ekonomi riil, seperti permintaan eksternal dari Amerika Serikat dan belakangan ini dari Tiongkok, juga penting, tetapi faktor keuangan global cenderung mendominasi. Untuk dapat bersandar pada terpaan arus modal dan menjaga stabilitas keuangan, para pembuat kebijakan regional bergantung pada beberapa tuas kebijakan, termasuk langkah-langkah makroprudensial dan mikroprudensial, penyesuaian nilai tukar, serta intervensi pasar valuta asing. Perangkat-perangkat kebijakan ini telah melengkapi kebijakan moneter. Penerapan kebijakan makroprudensial yang luas di negara-negara ASEAN-5, yang merupakan wilayah perintis dalam pembuatan kebijakan makro secara global, memberikan pelajaran tentang potensi efektivitas dari kebijakan tersebut. Pendekatan empiris dan berbasis model menunjukkan bahwa kebijakan makroprudensial membantu mengelola siklus keuangan di ASEAN-5, yang memungkinkan kebijakan-kebijakan makro untuk fokus pada siklus bisnis dan mempertahankan pertumbuhan.

Limpasan keuangan global akan terus menguji ketahanan perekonomian negara-negara ASEAN-5. Untuk dapat terus mempertahankan pertumbuhan dan stabilitas diperlukan peningkatan lebih lanjut atas kebijakan dan kerangka institusional, mengambil manfaat dari sinergi kebijakan ekonomi makro, serta meningkatkan ketahanan melalui integrasi keuangan regional. Dilatari ketidakpastian global yang semakin meningkat, tantangan kebijakan yang akan dihadapi ASEAN-5 dapat bervariasi lebih dari yang pernah mereka hadapi selama beberapa dekade terakhir, mengingat kondisi awal yang berbeda. Sementara beberapa negara harus bergulat dengan inflasi yang terus-menerus lemah di tengah tingginya utang rumah tangga, beberapa negara lain harus secara hati-hati mengatur dorongan infrastruktur dan mengelola volatilitas keuangan global yang berlanjut.

IMF tetap menjadi mitra yang berkomitmen dalam pertumbuhan dan transformasi kawasan ini. Saya berharap buku ini akan mengilhami diskusi yang lebih luas tentang bagaimana cara kolaborasi dan integrasi ASEAN di bidang perdagangan, keuangan, dan pasar tenaga kerja dapat memandu jalan ke depan bukan hanya untuk Asia Tenggara, tetapi juga untuk negara emerging market dan negara berkembang lainnya.

Christine Lagarde

Direktur Pelaksana

Dana Moneter Internasional

    Other Resources Citing This Publication